SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H.

Friday, May 20, 2011

Puasa Syawal dan Hukum Menggabungkan Niat dengan Puasa Qadha


Rasul Saw. Bersabda: Siapa-siapa berpuasa di bulan Ramadhan lalu dilanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa satu tahun. (HR. Muslim).

Hadis di atas menginformasikan kepada kita tentang keutamaan puasa enam hari setelah bulan Ramadhan (puasa Syawal) yaitu mendapat pahala puasa yang setara dengan puasa satu tahun penuh. Karena setiap 1 kebaikan dilakukan diberi ganjaran pahala dengan 10 kebaikan (Siapa-siapa yang melakukan kebaikan maka baginya mendapat 10 kebaikan. QS. 6 : 106). Dihitung dari 1 bulan Ramadhan, tambah 6 hari Syawal, dan dikalikan 10, sama dengan 360 hari dan itu adalah jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal hukumnya berpahala bagi yang mengerjakannya dan tidak berdosa bagi yang meninggalkannya, ia disyariatkan untuk menutupi kekurangan-kekurangan ibadah puasa Ramadhan, sehingga dapat memurnikannya dari hal-hal mengurangi nilainya di sisi Allah Swt.

Di sisi lain puasa syawal merupakan sunat rawatib bagi puasa wajib. Sebagaimana di dalam shalat 5 waktu diiringi dengan sunat qabliah atau sunat ba'diah, untuk menutupi kekurangan baik dari sisi perbuatan, perkataan, atau kekhusukannya. Demikian halnya semua kewajiban-kewajiban yang dititahkan Allah kepada hamba-Nya tetap didampingi dengan amalan-amalan sunat untuk penyempurnaannya, karena sebagai hamba yang dhaif tidak mampu melaksanakan ibadah itu seperti benar-benar apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Keutamaan lain yang didapat dari puasa Syawal ini adalah mengikuti jejak para Nabi dan Rasul yang sering membiasakan diri dengan melaksanakan puasa-puasa sunat.

Nabi Nuh as. puasa sunat sepanjang tahun, Nabi Musa as. puasa asyura (10 Muharram) sebagai ungkapan kesyukuran atas kemenangannya dari kejaran Fir'aun yang durjana dan sombong. Nabi Daud as. berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Nabi Isa as. berpuasa dua hari sekali. Demikian pula Nabi kita Muhammad SAW. selalu membiasakan puasa-puasa sunat sampai-sampai orang mengatakan beliau tidak akan berbuka, dan beliau juga berbuka sampai-sampai orang berkata bahwa beliau tidak akan berpuasa.

Perbedaan-perbedaan puasa sunat yang dipilih oleh para Nabi tersebut sesuai dengan kondisi umat ketika itu, seperti Nabi Nuh dan kaumnya terkenal nabi dan kaum yang sangat kuat fisiknya, maka mereka puasa sunat sepanjang tahun, sedangkan Nabi Isa as. nabi yang memiliki tubuh yang kurus memilih puasa 2 hari sekali, sejatinya puasa-puasa sunat ini merupakan penawar hati (tiryaaq) bagi para Rasul dan Nabi dan bagi orang beriman, sewajarnya memilih mana yang dibutuhkan.

Seseorang yang berpuasa syawwal atau puasa sunat lainnya di saat orang-orang berlebaran, berhalal bi halal, atau diundang untuk menghadiri acara jamuan makan, diberikan hak untuk memilih antara melanjutkan puasanya atau membatalkannya, sesuai dengan prinsip hukum puasa itu sendiri boleh berbuka dan boleh melanjutkan puasanya.

Rasul Saw. bersabda: Apabila diundang seseorang kamu untuk acara jamuan makan (sedangkan dia puasa) maka, dia boleh memilih untuk makan atau tidak makan (melanjutkan puasa). (HR. Muslim, Abu Daud). Dan di dalam riwayat Ibnu Mas'ud, bagi orang tidak puasa hendaklah dia makan dan bagi orang yang puasa hendaklah dia mendo'akan keberkahan.

Dan puasa 6 hari bulan Syawal tidak mesti berturut-turut dan boleh berselang-selang hari, selagi dalam bulan Syawal, akan tetapi sebaiknya disegerakan setelah merayakan hari raya Idul Fitri. (lihat Fiqih Islam Wahbah Azzuhaily 2 : 586).

Adapun puasa Qadha, adalah puasa pengganti dari puasa wajib yang ditinggalkan karena sakit yang diharapkan sembuh, musafir, haid, nifas, melahirkan dan lain-lain, terkecuali tidak sanggup mengganti dengan puasa maka diganti dengan fidiyah, memberi makan seorang fakir miskin, satu hari (1 kali makan), untuk satu hari puasa dan meng-qadha puasa ini pun tidak mesti berturut-turut, namun lebih baik disegerakan sebelum masuk Ramadhan tahun depan. Apabila masuk Ramadhan tahun berikutnya sedangkan puasa Ramadhan yang lalu belum diganti (qadha), maka menurut Jumhur (mayoritas) Ulama Fiqih, wajib mengganti puasa (qadha) dan membayar denda (fidyah) atas keteledorannya setiap satu hari puasa yang ditinggalkannya memberi makan seorang fakir miskin. (lihat Fikih Islam Wahbah Azzuhaily 2: 680).

Dan bagaimana pula hukumnya menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa qadha Ramadhan? Dengan kata lain puasa qadha Ramadhan dikerjakan pada bulan Syawal dalam 1 hari yang sama, memakai dua niat yaitu puasa qadha (wajib) dan puasa syawal (sunat) atau dengan istilah two in one, 2 niat satu pekerjaan.

Di dalam kitab Al Asybah wan Nazhair oleh Jalaluddin Assayuti, persoalan ini diungkap secara panjang lebar, dan membagi kepada 4 masalah.

Pertama, menggabung niat ibadah wajib dengan ibadah sunat, seperti menggabung niat shalat wajib dengan shalat sunat Tahiatul Masjid, maka hukumnya sah dan kedua-duanya berpahala. Demikian juga menggabungkan niat mandi janabah dan mandi sunat Jum'at, kedua-duanya berpahala. Selanjutnya, menggabungkan niat puasa qadha dan puasa sunat Arafah, atau puasa wajib lainnya seperti puasa Nazar, puasa Kafarat dengan puasa sunat lainnya, maka hukumnya sah dan boleh seperti yang difatwakan oleh Al Barizi.

Dengan memperhatikan persoalan-persoalan di atas dan membandingkan dengan persoalan yang diangkat dalam tulisan ini yaitu menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunat Syawal menurut hemat penulis tidak ada perbedaannya, yaitu menggabungkan niat puasa wajib (qadha) dengan puasa sunat, maka hukumnya disamakan dengan persoalan-persoalan di atas yaitu boleh dan sah kedua niat ibadah tersebut Insya Allah.

Kedua, niat yang sah adalah ibadah wajibnya saja, sedangkan ibadah sunat adalah batal. Contoh yang dikemukakan dalam persoalan ini menggabungkan niat qadha shalat wajib dengan niat sunat Tarawih pada bulan Ramadhan, maka hanya shalat wajib saja yang sah dan mendapat pahala, sedangkan Tarawih tidak sah sama sekali seperti difatwakan oleh Ibnu Solah.

Ketiga, kedua-duanya batal, yaitu menggabungkan niat ibadah wajib dengan ibadah wajib lainnya, seperti menggabungkan niat mandi wajib dan niat berwudhuk sekaligus, maka kedua-duanya batal.

Keempat, menggabungkan niat ibadah sunat dengan ibadah sunat lainnya, seperti menggabungkan niat mandi Jum'at dengan niat mandi hari raya, maka kedua-duanya sah.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa puasa Syawal hukumnya adalah sunat dan boleh dikerjakan secara terpisah (tidak berturut-turut), tapi sebaiknya dikerjakan segera selepas 1 syawwal dan berturut-turut enam hari. Dan puasa qadha Ramadhan dapat digabungkan niatnya dengan puasaSyawal bila diqiyaskan dengan penggabungan niat puasa Nazar dan puasa Arafah seperti yang difatwakan oleh Al Barizy di dalam kitab Qawaid Al Fiqh. Wallahua'lam.

Oleh H.M. Nasir, Lc, MA

No comments:

Post a Comment

Post a Comment